Saturday, 9 June 2012

PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (epinephelus Fuscoguttatus) di BBPBAP JEPARA, JAWA TENGAH



LAPORAN PRAKTEK LAPANG



TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU(BBPBAP), KABUPATEN JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH




M. IKBAL FARABI
070330003







Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan
Jurusan Budidaya Perairan Pada Fakultas Pertanian
Universitas Malikussaleh











PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
ACEH UTARA
2011


























I. PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
      Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha budidaya ikan. Pembangunan perikanan di Indonesia dilakukan melalui usaha penangkapan ikan di laut maupun perairan tawar, payau serta laut. Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah "groupers" dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun padar internasional dan selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990).
Kerapu merupakan salah satu jenis ikan karang yang paling populer di daerah Asia-Pasifik dan mempunyai nilai ekspor cukup tinggi. Salah satu jenis ikan kerapu yang  mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Kerapu macan umumnya tumbuh cepat, kuat dan cocok untuk budidaya intensif maupun tradisional serta mempunyai kekhasan dalam pasca panen serta penyajian dalam konsumsi (Tarwiyah, 2001).
Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup (Anonimous, 2010a). 
Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan, Balai Budidaya Laut Lampung sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan, telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon. Oleh karena beberapa hal tersebut di atas maka saya termotivasi untuk mengambil judul tentang Teknik Pembenihan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus).

1.2 Tujuan Praktek
       Secara umum tujuan Praktek Kerja Lapang adalah untuk mengetahui teknik-teknik dalam pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di BBPBAP Jepara, Jawa Tengah. Adapun secara khusus Praktek Kerja Lapang tersebut bertujuan untuk:
1. Menguasai dan memahami tentang teknik pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).
2. Dapat meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dalam bidang pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).

1.3 Manfaat Praktek Kerja Lapang
      Dengan adanya kegiatan Praktek Kerja Lapang, maka secara umum manfaat yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapang yaitu dapat memberikan sumber informasi bagi yang membutuhkan. Secara khusus Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat :
1. Bagi Mahasiswa dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini dapat menambah wawasan pengetahuan tentang dunia perikanan dan perairan.
2. Bagi Lembaga (Fakultas) dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini, Fakultas telah dapat menyediakan informasi keadaan Perairan dan usaha Perikanan kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi Perikanan dan Perairan.
3. Bagi pemerintah setempat dengan adanya Praktek Kerja Lapang ini, pemerintah setempat telah terbantu dalam mendapat potensi sumber daya manusia bidang perikanan.


















II.  TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Klasifikasi Dan Morfologi
        Menurut Subyakto dan Cahyaningsih (2005), Klasifikasi kerapu macan  (Epinephelus fuscoguttatus) sebagai berikut:
Filum :  Chordata
Subfilum         :  Vertebrata
Kelas :  Osteichtyes
Subkelas         :  Actinopterigi
Ordo :  Percomorphi
Subordo         :  Percoidea
Family :  Serranidae
Genus :  Epinephelus
Spesies         :  Epinephelus fuscoguttatus
Gambar 1. Morfologi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus).

      Bentuk badan kerapu macan memanjang dan gepeng (Compressed), tetapi kadang-kadang ada juga yang agak bulat. Mulut lebar serong ke atas dan bibir bawahnya menonjol keatas. Rahang bawah dan atas dilengkapi gigi-gigi geratan yang berderet dua baris, ujungnya lancip, dan kuat. Sementara itu, ujung luar bagian depan dari gigi baris luar adalah gigi-gigi yang besar. Badan kerapu macan ditutupi oleh sisik kecil yang mengilap dan bercak loreng mirip bulu macan (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005). Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal dan posterior (Anonimous, 2010a). 
       Kerapu macan memiliki sirip dorsal (punggung), sirip anal (perut), sirip pectoral (dada), sirip caudal (ekor), dan garis lateral (gurat sisi), sirip dorsal memanjang hampir sebagian bagian punggung, dimana bagian jari-jari kerasnya memiliki jumlah yang sama dengan jari-jari lunaknya. Jumlah jari-jari adalah 13-15 buah. Sirip anal terdiri dari 3 buah jari-jari, sedangkan jumlah jari-jari sirip ekor adalah 15-17 dan bercabang dengan jumlah 13-15 buah. Sisik yang menutupi seluruh permukaan tubuh berbentuk kecil, mengkilat dengan bentuk sikloid. Warna dasar kerapu macan adalah cokelat, dengan perut berwarna putih serta bercak hitam dan putih disekujur tubuh yang tidak beraturan (BBL Batam, 2006).

2.2  Habitat dan Penyebaran
      Di Perairan Indonesia populasi ikan kerapu terdapat cukup banyak antara lain adalah perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005). Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan ikan karang yang tergolong dalam famili serranidae, Sebagian besar hidup di perairan dangkal dengan dasar pasir berkarang, walaupun beberapa jenis dapat ditemukan di perairan dalam (BBL Batam, 2006).
  Ikan kerapu dapat dijumpai di perairan tropis dan subtropis pada kedalaman 0,5-3,0 m (benih), sedangkan yang dewasa sebagian besar hidup pada kedalaman 7-40 meter, namun beberapa spesies dapat dijumpai pada kedalaman 100-200 m dan bahkan 500 m. Ikan kerapu pada umumnya hidup di terumbu karang (Coral reefs), namun ada beberapa yang hidup di perairan pantai dekat muara sungai (Estuarine) atau batu karang (Rocky reefs). 
Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis Reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya "mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai adalah jenis Crustaceae dan jenis ikan-ikan (Anonimous, 2010a). 
Habitat favorit larva dan kerapu muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 - 31ºC, salinitas antara 30 -33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 - 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang (Anonimous, 2010b).

2.3 Kebiasaan Makan
        Ikan kerapu termasuk ikan karnivora yang buas dan rakus, hidup menyendiri atau kelompok-kelompok kecil pada perairan terumbu karang dan beberapa di daerah estuaria serta menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling  adalah udang jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea  lainnya. Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah ikan, udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya. Ikan kerapu mencari makan dengan jalan menyergap mangsanya dari tempat persembunyian dan setelah itu kembali lagi (Ahmad et al., 1991).
Ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada pagi hari sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di alam kerapu mencari makan sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau celah-celah batu yang merupakan tempat persembunyiannya. Kerapu tidak pernah mau mengambil atau mengkonsumsi pakan yang diberikan apabila sudah sampai ke dasar, meskipun kerapu dalam keadaan lapar. Biasanya kerapu berdiam di dasar dan tidak akan menyergap pakan yang diberikan jika mereka sudah kenyang (Akbar, 2002).
Kebiasaan makan (feeding habits) suatu jenis ikan mencakup dua hal, yaitu jenis-jenis makanan dan cara makan ikan terkait. Pemahaman mengenai feeding habits memiliki arti penting untuk memberikan jenis makanan yang cocok dan disukai ikan sehingga makanan tersebut dapat termakan.   

2.4  Perkembangbiakan
        Ikan kerapu bersifat hermaprodit protogoni, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan, ketika ikan kerapu masih muda (juvenile), gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis. Jaringan ovari kemudian mengisi sebagian gonad dan setelah itu jaringan ovari berfungsi dan mampu menghasilkan telur, Kemudian akan terjadi masa transisi di mana testisnya akan membesar dan ovarinya mengerut. Fase produksi pada induk betina di capai pada panjang tubuh antara 45-50 cm dengan berat 3-10 kg dan umur kurang lebih 5 tahun, selanjutnya menjadi jantan yang matang gonad pada ukuran minimal 74 cm dengan berat kurang lebih 11 kg (Sunyoto dan Mustahal 2000).
Perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks dan ukuran. Bobot kerapu macan betina 3,0-4,5 kg dan bobot kerapu macan jantan 5,0-6,0 kg keatas atau ketika kerapu macan jantan sudah mampu menghasilkan sperma untuk membuahi telur ikan betina. Di habitat aslinya ikan kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni pukul 8 malam hingga pukul 3 pagi. Biasanya, kerapu jantan akan berenang berputar mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya, kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya tersebut (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).
Hasil penelitian Mayunar et al. (1991), menunjukkan bahwa telur ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) menetas dalam waktu 16-22 jam setelah dibuahi.

2.5 Seleksi Induk
         Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan, kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya, garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron (Anonimous, 2010a).

2.6 Penyakit
         Lingkungan budidaya terutama sifat fisik, kimia dan biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan larva dan organisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan (kekebalan) larva terhadap penyakit. Sementara itu, lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan larva mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Larva yang mengalami stres mudah sekali terkena virus yang dapat menyebabkan kematian secara massal (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005). 
Ciri-ciri umum adanya serangan penyakit adalah ikan kehilangan nafsu makan. Biasanya sering berenang di permukaan air karena gelembung renang membengkak. Kerapu kadang-kadang mengalami sirip busuk dan borok, hal ini terjadi terutama akibat infeksi bakteri. Bila banyak ikan yang menunjukkan gejala ini, maka antibiotik harus segera diberikan. Pemberian  ampicillin secara   oral (5-20 mg/kg berat badan ikan) atau oxolinic acid (10-30 mg) adalah cukup efektif untuk infeksi ini. Pada budidaya kerapu, masalah terbesar adalah serangan penyakit oleh virus, seperti infeksi oleh Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Iridovirus. Sesekali terjadi serangan penyakit, akan terjadi mortalitas yang tinggi. Hingga saat ini, belum ada cara pengobatan untuk penyakit ini (BBL Gondol, 2003).
Parasit dan non parasit dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada ikan. Timbulnya penyakit atau gejala sakit sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh ikan sendiri dan cara penyerangan dari parasit tersebut. Penyakit ikan akan terjadi karena ikan sebagai substrat bagi berbagai macam pathogen, yakni baik yang hidup di dalam tubuh maupun di luar tubuh. Serangan patogen pada ikan tergantung habitat dari patogen tersebut (Sunyoto dan Mustahal 2000).
Penyakit parasiter tidak menyebabkan kematian pada ikan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan waktu inkubasi untuk menjadi epizootic. Penyakit kelompok bakteri, jamur, virus dan protozoa lebih cepat menimbulkan epizootic bila dibandingkan dengan arthopoda. Sedangkan penyakit helminthes (cacing) jarang menimbulkan wabah atau kematian (Sunyoto dan Mustahal 2000).
Penyakit parasit pada benih ikan tidak berbeda dengan ikan konsumsi maupun induk, hanya jumlah spesiesnya saja yang berbeda. Semakin besar ukuran benih, maka makin besar pula kesempatan berbagai jenis parasit menyerang (Sachlan, 1972 dalam Sunyoto dan Mustahal, 2000).
Penyakit yang sering menyerang kerapu macan adalah penyakit akibat serangan parasit, seperti :
a. Parasit Crustacea dan Flatworm
b. Penyakit akibat protozoa, seperti : Cryptocariniasis dan Broollynelliasis
c. Penyakit akibat jamur, seperti: Saprolegniasis dan Icththyosporidosis
d. Penyakit akibat serangan bakteri
e. Penyakit akibat serangan virus, seperti : VNN (Viral Neorotic Nerveus).

2.7. Parameter Kualitas Air
    Subyakto dan Cahyanigsih (2005), menjelaskan beberapa parameter lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan ketahanan larva terhadap penyakit antara lain: suhu air, salinitas, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrit, bahan organik dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida dan logam berat. Arifin (2008), mengatakan ikan kerapu menyenangi air laut berkadar garam 33 - 35 ppt (part per thousand ). 
Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002).

a. Suhu
      Suhu secara langsung berpengaruh terhadap proses metabolisme ikan. Pada suhu tinggi metabolisme ikan dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme diperlambat. Bila keadaan seperti ini  berlangsung lama, maka akan menggangu kesehatan ikan. Sedangkan secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap, akibatnya ikan akan kekurangan oksigen.
Suhu perairan di Indonesia tidak menjadi masalah karena perubahan suhu, baik harian maupun tahunan sangat kecil ( 27 - 320C ). Kadar oksigen dari habitat ikan kerapu sendiri adalah sebesar ± 4 ppm. Untuk kadar keasaman (pH) air laut yang menjadi habitat ikan kerapu adalah 7,6 - 7,8. Sedangkan besarnya kecepatan arus air yang ideal adalah sekitar 20-40 cm/detik (Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

b. Salinitas
        Pada musim kemarau salinitas sangat tinggi, tetapi pada musim penghujan pengaruh air tawar dari sungai akan menurunkan salinitas secara drastis. Salinitas air yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan kerapu macan dapat menggangu kesehatannya. Karena secara fisiologis salinitas akan mempengaruhi fungsi organ osmoregulator ikan. Perbedaan salinitas air media dengan tubuh ikan menimbulkan gangguan keseimbangan (Rakhas, 2010).

c. Derajat Keasaman (pH)
       Reaksi asam-basa sangat berarti bagi lingkungan, karena semua proses biologi hanya akan terjadi dalam kisaran pH optimum. Derajat keasaman air laut umumnya alkalis yaitu antara 7-9. Hal ini disebabkan di dalam massa air laut terdapat sistem penyangga (buffer system). Derajat keasaman yang terlalu rendah umumnya karena adanya pengaruh dari pH tanah dasar dari perairan tersebut dan juga oleh adanya beberapa proses kimiawi (Rakhas, 2010).
Menurut Sachlan (1987), dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan oksigen terlarut, sekaligus menaikan kandungan CO2 bebas sehingga mengakibatkan turunya pH air.

d. Oksigen Terlarut (DO)
    Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan semua organisme yang ada didalamnya untuk pernapasan dalam rangka melangsungkan metabolisme dalam tubuh mereka. Oksigen yang ada dalam air bisa masuk melalui difusi dengan udara bebas, hasil fotosintesis dari tanaman dalam air dan adanya aliran air baru (Rakhas, 2010).
Dalam penentuan lokasi pembenihan kerapu macan kandungan oksigen perairan bukan merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya kebutuhan akan oksigen dapat dipenuhi dari sumber pengudaraan tersendiri yaitu dengan memakai blower. 

f. Amoniak dan Nitrit
      Amoniak (NH3) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amoniak ini berada dalam dua bentuk yaitu amoniak tak berion (NH3) dan amoniak berion (NH4). Amoniak tak berion bersifat racun sedangkan amoniak berion tidak. Menurut Sachlan (1987), tingkat peracunan amoniak tak berion berbeda-beda untuk tiap spesies, tetapi pada kadar 0,6 mg/I dapat membahayakan organisme tersebut.
Amoniak biasanya timbul akibat kotoran organisme dan hasil aktivitas jasad renik dalam proses dekomposisi bahan organik yang kaya akan nitrogen. Tingginya kadar amoniak biasanya diikuti naiknya k
adar nitrit, mengingat nitrit adalah hasil dari reaksi oksidasi amoniak oleh bakteri nitrosomonas. Tingginya kadar nitrit terjadi akibat lambatnya perubahan dari nitrit ke nitrat oleh bakteri nitrobakter (Rakhas, 2010).

g. Kecerahan
      Perairan yang jernih secara visual menandakan adanya kualitas air yang baik, karena dalam air yang jernih umumnya kandungan partikel-prtikel terlarutnya rendah. Pada air yang kecerahannya tinggi, beberapa parameter kualitas air lain yang terkait erat dengan bahan organik seperti pH, NO2, H2S dan NH3 cenderung rendah atau layak untuk lokasi pembenihan. Kebalikan dari kecerahan adalah kekeruhan. Kekeruhan suatu perairan umunya disebabkan oleh 2 faktor yaitu : blooming plankton dan tersuspensinya partikel tanah.
Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, amoniak, amonium sulfat, nitrit, nitrat, chlorin, dsb) dilakukan dengan menggunakan termometer untuk suhu, refractometer untuk mengukur salinitas, pH meter untuk mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut dan water quality test kit untuk mengukur kualitas air lainnya disesuaikan dengan petunjuk kerja dari masing-masing alat yang digunakan. Frekuensi pengukuran dilakukan minimal dua kali seminggu (Ditjen Perikanan Budidaya, 2002).






























III. METODELOGI


3.1  Waktu dan Tempat
        Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 31 Juli sampai 15 Agustus 2010.

3.2 Alat dan Bahan
 Peralatan yang digunakan Adalah bak induk, bak pemeliharaan larva, dan peralatan kerja (Ember, gayung, serokan, sikat, peralatan siphon, dan aerasi). 
Bahan yang digunakan dalam Pembenihan ikan kerapu ini adalah induk, telur, pakan induk (ikan rucah, cumi-cumi, dll), hormon pemijahan dan pelet larva.

3.3  Metode Praktek Lapang
       Kegiatan praktek lapang meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder  yang di  peroleh  dengan cara :
1.   Mengikuti dan melaksanakan secara langsung seluruh kegiatan pembenihan yang di laksanakan oleh pihak Balai.
2. Observasi (pengamatan) terhadap kegiatan budidaya ikan kerapu yang di laksanakan oleh pihak Balai.
3. Diskusi dengan pimpinan operasional, teknisi lapangan dan staf pegawai setempat serta pihak lain yang terkait.
4.   Studi pustaka untuk menambah informasi dengan mencari keterangan ilmiah  dan literatur yang setara dengan teknis dan kendala yang di  hadapi dalam pembenihan ikan kerapu macan.

3.4 Metode Kerja
3.4.1 Persiapan Wadah
       Bak pemeliharaan induk kerapu macan yang digunakan berjumlah 4 buah, berukuran 7,5 x 3,5 x 3 m  dan berkapasitas 78 m3. Sebelum digunakan, bak tersebut didesinsifeksi menggunakan kaporit dengan dosis 10 ppm dan dibersihkan dari organisme penempel seperti tritip, kerang-kerangan dan lumut dengan menggunakan scrap dan sikat. Setelah itu bak dikeringkan selama 1 hari, hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya bakteri patogen yang masih tertinggal di bak.
Air laut yang digunakan pada bak pemeliharaan induk diperoleh dari tandon yang letaknya berdekatan dengan bak pemeliharaan induk.

3.4.2 Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air dilakukan secara rutin untuk menjaga kerapu agar tetap sehat, tidak terserang penyakit yang disebabkan oleh kualitas air yang kurang baik. Diantaranya yaitu dengan melakukan pergantian air, penyiponan. Penyiponan dilakukan untuk membuang kotoran atau sisa pakan yang mengendap dipermukaan agar tidak menjadi amoniak. 

3.4.3 Pemeliharaan Induk
Pemeliharaan induk berupa pemberian pakan, multi vitamin, penyiponan dan pergantian air. Pakan yang diberikan adalah ikan rucah dengan kandungan protein tinggi seperti lemuru, biji nangka, dan cumi-cumi. Selain itu juga diberikan multi vitamin seperti vitamin E dan vitamin C. Dosis pemberian pakan adalah secara adlibitum dengan frekuensi 2 hari sekali. 
Pengecekan kualitas air dilakukan  dengan cara penyiponan dan pergantian air. Penyiponan dan pergantian air dilakukan secara bersamaan apabila kualitas air sudah dianggap tidak layak.

3.4.4 Pemijahan
Kerapu macan dapat memijah secara alami dalam bak yang terkontrol, namun dapat juga di lakukan manipulasi lingkungan yang dilakukan pada malam hari dan biasanya menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.00 - 24.00 WIB dengan Sex ratio adalah 1:1. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni - September dan bulan November - Januari. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva (Anonimous, 2010a).

3.4.5 Penetasan Telur
      Penetasan telur dilakukan setelah telur dikumpulkan dalam bak penampungan dengan ukuran 3,5 x 1,5 x 1 m dan berkapasitas 5 m3,  sebelum digunakan wadah tersebut dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu. Setelah dibersihkan dilanjutkan dengan pengisian air dan dipasang aerasi untuk suplai oksigen.

3.4.6 Pemeliharaan larva
3.4.6.1 Persiapan wadah
       Pemeliharaan larva dilakukan umtuk menghasilkan larva yang sehat dan mempunyai kualitas bagus. Pemeliharaan larva dilaksanakan di Hatchery ikan kerapu macan yang berjumlah 8 buah berbentuk persegi panjang dari beton tanpa sudut mati dengan ukuran 4 x 2 x 1,5 m dengan kapasitas 10 m3 yang di tempatkan diruangan semi outdoor dan dilengkapi aerasi berjarak 50 cm dan 5 cm diatas dasar bak.
Sebelum digunakan bak tersebut terlebih dahulu dicuci menggunakan larutan kaporit yang disiram kedinding bak dan kemudian disikat, setelah itu bak disiram menggunakan air tawar dan dibiarkan kering selama satu hari.

3.4.6.2 Penebaran Larva
Penebaran larva dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelum larva diambil terlebih dahulu sistem aerasi dimatikan terlebih dahulu, sampai telur yang tidak menetas mengendap didasar akuarium. Kemudian larva diambil secara perlahan menggunakan gayung secara hati-hati dan perlahan agar larva terhindar dari stres yang dapat menyebabkan kematian.

3.4.7 Pencegahan dan Pemberantasan Hama dan Penyakit
Penyakit timbul karena tidak adanya keseimbangan antara ikan, patogen dan lingkungan. Usaha untuk menghindari serangan penyakit yang timbul antara lain dengan pengelolaan kualitas air yang baik, selain itu juga dilakukan usaha pencegahan (preventif) dengan kaporit dan pemberian antibiotik untuk pengobatan. Sanitasi wadah dilakukan sebelum penebaran induk.








IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1 Keadaan Umum BBPBAP Jepara
4.1.1 Lokasi BBPBAP Jepara
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara terletak di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupataen Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Letak geografis BBPBAP Jepara adalah 1100 39’ 11’’ BT dan 60 33’ LS. BBPBAP Jepara terletak di Kelurahan Bulu dengan batas-batas antara lain sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kelurahan Demaan, sebelah utara dengan Kelurahan Kauman. 
Luas kompleks BBPBAP Jepara kurang lebih 64,5472 ha yang terdiri dari kompleks balai seluas 10 ha dan tambak seluas 54,5472 ha. Kompleks balai terdiri dari perkantoran, perumahan, asrama, unit pembenihan, unit pembesaran, lapangan olah raga, auditorium dan laboratorium.  BBPBAP Jepara dan sekitarnya merupakan daerah beriklim tropis dengan musim hujan terjadi pada bulan November-Maret, musim pancaroba terjadi pada bulan April-Juni dan musim kemarau terjadi pada bulan Juli-Oktober. 

4.1.2 Sejarah Berdirinya BBPBAP Jepara
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dalam perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa kali perubahan status dan hierarki. Pada awal berdirinya tahun 1971, lembaga ini bernama Research Center Udang (RCU) dan secara hierarki berada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian. Pada tahun 1977, RCU diubah namanya menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) yang secara struktural berada dibawah Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian.
Pada tahun 2000 setelah terbentuknya Departemen Ekplorasi Laut dan Perikanan, keberadaan BBAP masih dibawah Direktorat Jenderal Perikanan. Akhirnya pada bulan Mei 2001, status BBAP ditingkatkan menjadi Eselon II dengan nama Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) dibawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan.

4.1.3 Tugas dan Fungsi
Balai Besar Pengenbangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, No. KEP. 26C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara mempunyai tugas, fungsi sebagai berikut :
- Tugas Pokok
    BBPBAP Jepara mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan penerapan teknik perbenihan, pembudidayaan, pengelolaan kesehatan ikan dan pelestarian lingkungan budidaya.



- Fungsi
Dalam melaksanakan tugasnya BBPBAP Jepara menyelenggarakan fungsi :
a. Identifikasi dan perumusan program pengembangan teknik budidaya air payau.
b. Pengujian standar perbenihan dan pembudidayaan ikan.
c. Pengujian alat, mesin, dan teknik perbenihan serta pembudidayaan ikan.
d. Pelaksanaan bimbingan penerapan standar perbenihan dan pembudidayaan ikan.
e. Pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi personil perbenihan pembudidayaan ikan.
f. Pelaksanaan produksi dan pengelolaan induk pejenis dan induk dasar.
g. Pengawasan perbenihan, pembudidayaan ikan, serta pengendalian hama dan penyakit ikan.
h. Pengembangan teknik dan pengujian standar pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk dan benih.
i. Pengelolaan sistem jaringan laboratorium penguji dan pengawasan perbenihan dan pembudidayaan ikan.
j. Pengembangnan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi pembudidayaan.
k. Pengelolaan keanekaragaman hayati.
l. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

4.1.4 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja
       Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP. 26 C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang organisasi dan tata kerja BBPBAP Jepara yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Perairan. Di dalam struktur organisasi tersebut, terdapat kelompok jabatan fungsional yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perekayasaan, pengujian, pembimbingan, penerapan standar teknik alat dan mesin, sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan, penyuluhan hama dan penyakit, pengawasan benih dan kegiatan lain yang sesuai dengan masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

4.1.5 Visi dan Misi BBPBAP Jepara
     Adapun visi dari BBPBAP Jepara yaitu mewujudkan balai sebagai instansi pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem usaha budidaya air payau yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.
Adapun misi dari BBPBAP Jepara yaitu mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha, meningkatkan kapasitas kelembagaan, mengembangkan sistem informasi IPTEK perikanan, mengembangkan jasa pelayanan dan sertifikasi, serta memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan lingkungannya.


4.2          Hasil Kegiatan Praktek Kerja Lapang
4.2.1 Pemeliharaan Induk
      Pemeliharaan induk merupakan langkah awal yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan. Salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan induk yang matang gonad.

4.2.1.1 Persiapan Wadah
      Bak pemeliharaan induk kerapu macan yang digunakan berjumlah 4 buah, berukuran 7,5 x 3,5 x 3 m  dan berkapasitas 78 m3, bak ini dipakai juga sebagai bak pemijahan dan adaptasi induk. Sebelum digunakan, bak tersebut didesinsifeksi menggunakan kaporit dengan dosis 10 ppm dan dibersihkan dari organisme penempel seperti tritip, kerang-kerangan dan lumut dengan menggunakan scrap dan sikat. Setelah itu bak dikeringkan selama 1 hari, hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya bakteri pathogen yang masih tertinggal di bak setelah pembesaran.
Air yang digunakan pada bak pemeliharaan induk merupakan air laut yang telah ditampung dalam tandon yang letaknya berdekatan dengan bak pemeliharaan induk



4.2.1.2 Penebaran induk
         Induk kerapu macan yang terdapat di BBPBAP Jepara merupakan hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Karimun Jawa. Induk tersebut diadaptasikan terlebih dahulu di bak adaptasi yang juga berfungsi sebagai bak pemeliharaan. Umur induk sekitar 8 - 9 tahun dengan bobot 7 - 15 kg dan panjang tubuh 60 - 80 cm.  Penebaran induk dilakukan pada pagi hari pukul 07.00-09.00 dimana suhu relatif tidak panas. Induk yang berada dalam bak adaptasi dipindahkan satu persatu kedalam bak pemeliharaan yang baru dengan menggunakan jaring. Jumlah induk yang ditebar adalah 20 ekor dengan perbandingan induk jantan dan betina adalah 1:1.
Perbedaan induk jantan dan betina dapat dilihat dari morfologinya pada saat matang gonad dimana perut induk betina membuncit, sedangkan induk jantan akan mengeluarkan cairan putih (sperma) bila diurut bagian perutnya.
4.2.1.3 Pemberian pakan untuk induk
Keberhasilan dalam pembenihan ikan kerapu macan sangat tergantung pada manajemen pakan yang dilakukan. Pemberian pakan dengan nutrisi lengkap akan berpengaruh terhadap kualitas telur yang dihasilkan, yang kemudian akan berpengaruh terhadap tingkat penetasan telur dan tingkat kehidupan larva. Ikan kerapu macan temasuk karnivora sehingga apabila kekurangan pakan sifat kanibalnya akan muncul. 
Adapun kandungan nutrisi ikan sebagai pakan induk ikan kerapu macan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Ikan sebagai pakan induk kerapu macan
Nama Kandungan Nutrisi (%)
Protein Lemak Serat Abu Air
Selar
Tanjan
Pepetek 77,4
72,4
66,3 6,4
11,6
7,81 5,47
1,54
6,25 14,72
14,35
22,37 1,40
1,88
1,26
Sumber : Laporan Bulanan BBPBAP Jepara (2010)
     Pemberian pakan pada induk dapat berupa ikan segar dengan kualitas baik, murah harganya dan jumlahnya cukup. Ikan yang digunakan berupa ikan rucah dengan jenis antara lain ikan tanjan, selar, pepetek, dan cumi-cumi. Jumlah ikan ini disesuaikan dengan jumlahnya yang melimpah diperairan pada waktu tertentu dan dapat melengkapi kebutuhan nutrisi bagi induk. Frekuensi pemberian pakan 6 kg/hari., biasanya diberikan pada pagi hari. Induk kerapu macan dapat menghabiskan pakan 4 - 6 kg/hari dan pernah mencapai 7-9 kg/hari. 


Gambar 3. Ikan Rucah dan Cumi-Cumi

        Untuk menjaga kesegaran dan menjaga ketersediaannya sepanjang waktu, pakan ikan disimpan dan dibekukan dalam freezer dengan lama penyimpanan tidak lebih dari 4 hari dan seterusnya diganti dengan stok pakan yang baru.

4.2.1.4 Pengendalian Hama Dan Penyakit
       Penyakit timbul karena tidak adanya keseimbangan antara ikan, patogen dan lingkungan. Usaha untuk menghindari serangan penyakit yang timbul antara lain dengan pengelolaan kualitas air yang baik, selain itu juga dilakukan usaha pencegahan (preventif) dengan kaporit dan pemberian antibiotik untuk pengobatan. Sanitasi wadah dilakukan sebelum penebaran induk.
Selama kegiatan praktek tidak ada dilakukan penelitian tentang penyakit atau parasit yang menyerang. Namun, terdapat luka-luka ditubuh induk karena induk tersebut menggosokkan tubuhnya kedinding. Hal ini disebabkan oleh stres karena kualitas air yang kurang baik. Untuk mengatasinya dilakukan dengan cara mempertahankan kondisi air pada level ideal untuk hidup induk yaitu memiliki suhu dengan kisaran 27-300C, salinitas 27-31 ‰ dan pH 7-8,2. untuk mengobati tubuh induk kerapu macan yang luka diolesi cairan kalium permagnat.  

4.2.1.5 Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air dilakukan secara rutin dengan cara melakukan pergantian air sebanyak ±50% perhari sehingga kotoran atau sisa pakan terbuang keluar. Pergantian air dilakukan secar bertahap dengan sistem air mengalir, biasanya sebelum pemberian pakan. Pada sore hari, permukaan air dinaikkan kembali dengan cara menambahkan air baru yang  dialirkan sepanjang malam hingga memenuhi kapasitas bak. Adapun kualitas parameter yang diukur selama praktek kerja lapang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Kualitas Air Bak Pemeliharaan Induk Kerapu Macan
No Parameter Kisaran
1
2
3
4
5
6 Temperatur (0C)
DO (ppm)
Salinitas (ppt)
pH
Amoniak (ppm)
Nitrit (ppm) 29 -31
3,44 – 4,29
30 – 31
7,9 – 8,2
Tt – 0,024
0,065 – 0,344
Sumber : Laporan BBPBAP Jepara (2010)

Parameter yang diukur selama kegiatan praktikum sesuai dengan pendapat para ahli seperti : Temperatur selama kegiatan berkisar antara 29-31°C sesuai dengan pendapat Subyakto dan Cahyaningsih (2005), Suhu perairan di Indonesia tidak menjadi masalah karena perubahan suhu, baik harian maupun tahunan sangat kecil ( 27 - 320C ). Kadar oksigen dari habitat ikan kerapu sendiri adalah sebesar ± 4 ppm. Untuk kadar keasaman (pH) air laut yang menjadi habitat ikan kerapu adalah 7,6 - 7,8. Sedangkan besarnya kecepatan arus air yang ideal adalah sekitar 20-40 cm/detik.

4.2.1.6 Pematangan Gonad Induk
Proses pematangan gonad induk kerapu macan di BBPBAP Jepara, yaitu dengan cara memberikan pakan yang mempunyai kandungan protein yang tinggi. Pemberian protein yang tinggi sangat penting bagi induk karena protein merupakan sumber energi utama. Selain itu, pengurangan dan pemasukan air laut setiap hari dapat merangsang pematangan gonad induk. Berkurangnya nafsu makan dapat mengindikasikan bahwa induk akan memijah, untuk memacu perkembangan pematangan gonad induk kerapu macan diberikan vitamin C dan vitamin E.
Vitamin C dan vitamin E diberikan kepada induk kerapu macan dalam bentuk kapsul yang dimasukan kedalam pakan berupa ikan rucah maupun cumi-cumi. Vitamin C dan vitamin E juga berguna untuk mencegah adanya gangguan fertilitasi, membantu perkembangan reproduksi, memperlancar fungsi kelamin serta menguatkan jaringan telur. 

4.2.2 Pemijahan Induk dan Penetasan Telur
Teknik pemijahan induk kerapu macan di BBPBAP Jepara menggunakan teknik manipulasi lingkungan, yaitu dengan penjemuran. Teknik ini dilakukan dengan cara menurunkan permukaan air pada pagi hari sekitar 50 - 150 cm dari bak induk, kemudian dilakukan penjemuran selama 5 – 6 jam sehingga suhu air meningkat sekitar 3 -7 0C. Menjelang sore hari permukaan air dinaikkan kembali dengan penambahan air baru dan dialirkan sepanjang malam.
Kegiatan manipulasi lingkungan dilakukan 5 hari sebelum bulan penuh. Induk yang telah matang gonad setelah dirangsang dengan adanya fluktuasi suhu yang besar akan mengeluarkan telur 1 – 3 hari sebelum bulan penuh. Induk kerapu macan memiliki kemampuan mengeluarkan telur 2 - 5 kali pertahun rata-rata 5 – 10 ribu setiap waktunya.
Induk yang telah siap memijah ditandai dengan berkurangnya nafsu makan, berenang bersamaan antara induk jantan dan induk betin. Penampakan warna pada bagian perut lebih cerah pada induk betina dan perutnya membuncit serta lubang genitalnya berwarna kemerahan. Sedangkan ciri induk jantan memiliki warna yang lebih terang dan lubang genitalnya lebih menonjol kemerahan.
Ikan kerapu macan akan memijah pada malam hari antara pukul 20.00 – 02.00 WIB. Kemudian telur tersebut di tebar kedalam bak inkubasi, telur kerapu macan yang dibuahi berwarna agak kekuning-kuningan, bening dan mengapung atau melayang di permukaan air, bentuknya bulat, kuning telur berada di tengah berdiameter 850 – 950 mikron, sedangkan telur yang tidak dibuahi akan mengendap  di dasar perairan dan berwarna putih susu. Telur akan menetas dalam waktu 16 – 18 jam setelah pembuahan dengan salinitas 30 – 34 ‰ dan suhu berkisar antara 26 – 30 0C. (Komaruddin, 1997 dalam Rakhas, 2010).

4.2.2.1 Pemanenan Telur
       Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00-09.00 WIB. Telur dipanen dari  egg collector yang dipasang pada bak penampungan telur dengan menggunakan scoopnet atau gayung untuk mempermudah pengangkutan ke dalam wadah seleksi telur.
Pada proses pengangkutan telur memerlukan penanganan yang sangat hati-hati, karena fase ini embrio sangat rentan terhadap guncangan dan sinar matahari langsung. Menurut Sugama et al. (2001), fase perkembangan telur sebelum mencapai stadia embrio sangat peka, terutama sebelum mencapai stadia grastula dan sebelum menetas.


                                                       Gambar 4. Pemanenan telur

4.2.2.2 Penetasan Telur
      Penetasan telur dilakukan setelah telur dikumpulkan dalam bak penampungan dengan ukuran 3,5 x 1,5 x 1 m dan berkapasitas 5 m3,  sebelum digunakan wadah tersebut dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu. Setelah dibersihkan dilanjutkan dengan pengisian air dan dipasang aerasi untuk suplai oksigen.
4.2.2.3 Penebaran dan Inkubasi Telur
Telur ditebar ke dalam akuarium penetasan dengan menggunakan gayung secara perlahan-lahan dan hati-hati agar telur tidak rusak, yang dapat mengakibatkan daya tetasnya menjadi rendah.
Telur yang dimasukkan kedalam wadah inkubasi didiamkan selama ± 15 menit dan aerasinya dicabut sampaiterlihat telur-telur yang rusak mengendap didasar akuarium. Telur-telur tersebut kemudian dibuang dengan cara disiphon agar tidak merusak media inkubasi. Kemudian wadah inkubasi dipasang aerasi kembali agar telur tidak saling menempel. Lama inkubasi telur ± 20-24 jam.
Hasil penelitian Mayunar et al. (1991), menunjukkan bahwa telur ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) menetas dalam waktu 16-22 jam setelah dibuahi.
Persentase  jumlah telur yang dibuahi (Fertilisasi Rate) dihitung berdasarkan rumus :
FR = Jumlah telur yang dibuahi x 100% 
        Jumlah total telur yang ditebar

Sedangkan Persentase jumlah telur yang menetas (Hacthing Rate) dihitung berdasarkan rumus :
HR = Jumlah telur yang menetas  x 100% 
         Jumlah total telur yang ditebar

Tabel 4. Produksi Telur Kerapu Macan
Tanggal Jumlah Telur Telur Dibuahi Menetas
(ekor) FR
(%) HR
(%)
09-08-2010
10-08-2010
11-08-2010 3.500.000
25.000.000
2.500.000 3.000.000
7.000.000
2.000.000 1.000.000
2.500.000
1.000.000 85,7
28
80 28,6
10
40
Jumlah 31.000.000 12.000.000 4.500.000 - -
Rata - rata 10.333.333 4.000.000 1.500.000 64,6 26,2
Sumber : Laporan Bulanan BBPBAP Jepara (2010)
Fekunditas dari telur ikan kerapu macan menunjukan nilai 64,6 % hal ini berarti derajat pembuahan (FR) tinggi menandakan jumlah telur banyak yang dibuahi oleh induk kerapu jantan dan derajat penetasan (HR) telur kerapu macan di BBPBAP Jepara sekitar 26,6 % sehingga termasuk baik. Larva kerapu macan yang baru menetas  dipindahkan ke bak pemeliharaan  larva sekaligus bak pemeliharaan benih yang ditempatkan diruangan semi outdoor. Bak ini berbentuk persegi panjang tanpa sudut mati dengan ukuran 4 x 2 x 1,5 m dan berkapasitas 10 m3. Proses pemindahan ini harus dilakukan dengan hati-hati menggunakan gayung dan baskom. 

4.2.3 Pemeliharaan Larva dan Benih
4.2.3.1 Persiapan Wadah
Bak pemeliharaan larva di Hatchery ikan kerapu macan BBPBAP Jepara berjumlah 8 buah berbentuk persegi panjang dari beton tanpa sudut mati dengan ukuran 4 x 2 x 1,5 m dengan kapasitas 10 m3 yang di tempatkan diruangan semi outdoor dan dilengkapi aerasi berjarak 50 cm dan 5 cm diatas dasar bak.
Sebelum digunakan , bak tersebut didesinfeksi dengan kaporit sebanyak 10 ppm kemudian disiram secara merata ke dinding dan dasar bak kemudian dilakukan penggerokan dengan sikat. Setelah itu bak dibilas dengan air tawar yang steril dan kemudian bak dikeringkan selama 1 hari, kemudian melakukan pemasangan alat pendukung seperti heater, jaringan aerasi (pipa, selang dan batu aerasi) dan terpal penutup. Setelah siap maka dilakukan pemasukan air laut yang telah steril dengan ketinggian 70 cm, sebelumnya air disaring dengan menggunakan filter bag yang diikatkan pada ujung pipa pemasukan air. Filter bag berfungsi untuk menyaring kotoran yang berukuran besar.

4.2.3.2 Penebaran Larva
Penebaran larva dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelum larva diambil terlebih dahulu sistem aerasi dimatikan terlebih dahulu, sampai telur yang tidak menetas mengendap didasar akuarium. Kemudian larva diambil secara perlahan menggunakan gayung agar larva terhindar dari stres yang dapat menyebabkan kematian.    
       Penebaran larva kedalam bak pemeliharaan larva harus segera dilakukan karena kondisi yang padat didalam wadah penetasan akan dapat menurunkan kualitas larva itu sendiri, disamping itu kualitas air media penetasan juga sudah menurun seiring menetasnya telur. Keterlambatan dalam pemindahan ke bak pemeliharaan larva maka dapat meyebabkan kondisi larva melemah dan dapat berpengaruh dalam pemeliharaan larva selanjutnya.

4.2.3.3 Pemberian Pakan
         Menurut (Ahmad et al., 1991) Ikan kerapu termasuk ikan karnivora yang buas dan rakus, Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling  adalah udang jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea  lainnya. Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah ikan, udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya.
Larva kerapu macan baru menetas tidak perlu diberi pakan dari luar karena larva masih mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Kuning telur tersebut akan dimanfaatkan sebagai pakan sampai hari kedua (D2) karena pada saat larva kerapu macan berumur tiga hari (D3) cadangan makanan tersebut terserap habis maka larva kerapu macan perlu diberikan pakan dari luar berupa pakan alami yang mengandung nilai gizi tinggi dan sesuai dengan bukaan mulut larva.
Larva yang berumur D3–D14 diberikan pakan alami berupa rotifer (Brachionus plicatilis) yang telah disaring dengan kepadatan 5 – 10 ekor/ml, disamping itu media pemeliharaan ditambahkan Chlorella sp. Sebanyak 0,25 volume media dengan kepadatan 5 x 105 sel/ml. Pemberian Chlorella sp. dimaksudkan sebagai penjaga kualitas air dan pakan rotifer. Kepadatan rotifer diperiksa setiap hari untuk mencegah larva kekurangan pakan dan mencegah terjadinya blooming yang berdampak terhadap persaingan mendapatkan oksigen dengan larva.
Pemberian Artemia sp. dengan kepadatan 3 – 5 ekor/ml dimulai sejak larva D14-D36 pada pagi dn sore hari. Larva pun sudah mulai diberikan pakan buatan setiap dua jam dari pukul 06.00 – 16.00 WIB karena di BBPBAP Jepara sedang diadakan percobaan untuk menjadikan pakan buatan sebagai pakan utama bagi larva kerapu macan. Pakan buatan ini diberikan pada larva sampai kenyang (add libtum) dan bertujuan supaya ikan kerapu dapat menerima pakan dalam bentuk pellet dan mengurangi ketergantungan terhadap pakan alami.
Pemberian pakan alami terus dilakukan sejak D36 dengan mengganti Artemia sp. dengan udang jambret karena ukurannya lebih besar, walaupun sudah diberikan pakan buatan dalam jumlah yang cukup banyak, sifat kanilibalisme larva kerapu macan semakin bertambah dengan bertambahnya umur, jadi sejak D46 larva kerapu macan diberikan tambahan pakan pada pagi hari berupa ikan rucah yang dipotong sesuai bukaan mulut benih untuk memberikan rasa kenyang.

4.2.3.4 Pengelolaan Kualitas Air
Selain pemberian pakan, faktor yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kualitas air sebagai media larva agar tetap optimal untuk tumbuh dan berkembang. Kualitas air dipengaruji oleh berbagai faktor baik fisik maupun kimia seperti temperatur, pH, salinitas, oksigen terlarut, amomonia dan nitrit. Untuk menjaga kualitas air yang berada di bak pemeliharaan tetap baik, maka dilakukan pergantian air secara rutin setelah penyiponan. Adapun parameter kualitas air pada pemeliharaan larva kerapu dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Parameter Fisika-Kimia Air Pada Bak Larva Kerapu Macan
No. Tanggal Temp
(0C) DO
(mg/I) Salinitas
(ppt) pH NH3
(mg/I) NO2
(mg/I)
1
2
3
4
5
6
7 19/07/2010
26/07/2010
02/08/2010
09/08/2010
16/08/2010
23/08/2010
30/08/2010 30
30
31
29
31
31
30 4,29
4,25
3,44
4,05
4,00
3,75
4,11 30
30
31
30
31
31
31 8,2
7,9
8,2
7,9
8,1
8,0
8,2 0,024
0,023
0,035
0,031
0,027
0,033
0,030 0,065
0,303
0,344
0,095
0,106
0,081
0,167
Sumber : Laporan Bulanan BBPBAP Jepara (2010)
Pergantian air mulai dilakukan setelah larva berumur D7 karena kondisi larva sebelum D7 masih kritis, sehingga sangat membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil. Pengantian air dilakukan sebanyak 10 - 20% setiap harinya. Dengan bertambah umurnya larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak.
Sejak D20 volume penggantian air dinaikkan menjadi 30 – 40% setiap harinya, sedangkan penyiponan dasar bak dilakukan sejak D31 setiap dua hari sekali dengan menggunakan selang berdiameter 0,75 inchi. Penyiponan dilakukan secar perlahan-lahan karena dapat merusak media pemeliharaan, dimana kotoran yang mengendap di dasar bak akan teraduk sehingga menyebabkan larva menjadi stres.
4.2.3.5 Pengendalian Hama dan Penyakit
Penyakit pada larva kerapu macan dapat disebabkan oleh faktor infeksi dan non infeksi. Pada umumnya, penyakit yang sering terjadi di BBPBAP Jepara disebabkan oleh faktor non infeksi, yaitu lingkungan.
Faktor lingkungan ini erat kaitannya dengan masalah kualitas air. Kualitas air yang mempengaruhi larva antara lain suhu, oksigen terlarut, salinitas, bahan organik, pH, amoniak dan nitrit. Perubahan kualitas air tersebut secara fluktuatif dapat menimbulkan kematian. Gejala yang sering timbul karena faktor lingkungan, yaitu larva yang sering timbul dipermukaan air, bergerombol, menempel satu sama lain, lalu larva mati dengan kondisi insang pucat, produksi lendir yang banyak, mulut dan overculum terbuka. Untuk mengatasinya dilakukan dengan cara mempertahankan kondisi air pada level ideal untuk hidup larva, yaitu dengan kisaran suhu 27-300C, salinitas 27-31‰ dan pH 7-9. 
Pada pemeliharaan larva kerapu, jarang ditemukan penyakit yang menginfeksi, hanya saja selama kegiatan PKL di BBPBAP Jepara, terkadang ditemukan gejala-gejala penyakit yang belum diketahui penyebabnya. Parasit yang paling banyak ditemukan pada indukan kerapu yaitu Caligus sp.                                     

4.2.3.6 Sampling Pertumbuhan dan Populasi
Selama praktek lapang berlangsung tidak dilakukan sampling, tetapi pengamatan terhadap perkembangan larva dilakukan setiap hari. Tahap perkembangan larva dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tahap Perkembangan Larva Ikan Kerapu Macan
Hari Tahap Perkembangan
D1 Larva baru menetas, berwarna transparan dan bersifat planktonik
D3 Timbul bintik – bintik hitam di kepala dan perut
D7 Muncul sirip punggung yang keras dan panjang dengan bintik hitam
D20 Duri punggung berwarna kehitaman
D29 Bentuk larva mulai berubah menjadi juvenil dan sudah bergerak melawan arus
D40 Bentuk larva dan motif tubuhnya telah menyerupai ikan dewasa
Sumber : Subyakto dan Cahyaningsih (2005)

Fase kritis larva kerapu macan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Fase Kritis Larva Ikan Kerapu Macan
Fase Kritis Umur (hari) Keterangan
I 4 – 7 Kuning telur sebagai cadangan makanan terserap habis, sedangkan bukaan mulut larva masih terlalu kecil untuk rotifer dan organ pencernaan yang belum sempurna
II 10 – 12 Ketika spina mulai tumbuh. Fase ini kemungkinana mulai membutuhkan nutrisi yang berbeda sedangkan jenis pakan masih sama dengan sebelumnya
III 21 – 24 Terjadi metamorphose yaitu pada saat spina menghilang dan larva berubah menjadi ikan muda
IV        > 30 Sifat kanibal sudah mulai tampak, dimana benih yang lebih besar memangsa yang lebih kecil
 Sumber : Subyakto dan Cahyaningsih (2005)

4.2.3.7 Pemanenan Benih
Pemanenan merupakan proses akhir dalam suatu usaha pembenihan. Umumnya pemanenan dilakukan setelah benih berumur D33 benih dapat dipanen sebanyak 3 kali, yaitu pada D33, D39, D41. Sifat kanibalisme sudah tampak dimana benih yang ukurannya lebih besar akan memangsa yang lebih kecil, tetapi     seringkali ditemukan benih yang memangsa benih yang seukuran. Untuk pencegahan larva/benih kerapu macan diberi makan yang cukup, dan dilakukan grading  yang bertujuan untuk menyeragamkan ukuran agar tidak terjadi persaingan makanan dan mengurangi kanibalisme (Rakhas, 2010).
Pemanenan benih dilakukan dengan cara mengambil terlebih dahulu benih yang berada dipermukaan dengan menggunakan baskom beserta airnya. Untuk mengambil benih yang tersisa, hapa dipasang pada bak disurutkan dengan cara membuka pipa outlet secara perlahan-lahan sampai habis. Benih-benih tersebut di grading berdasarkan ukuran dan disimpan pada bak terpisah.

        Untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup larva dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : 
SR = Nt x 100%
         No

SR : Kelangsungan hidup
Nt  : Jumlah larva pada akhir panen
No : Jumlah larva pada awal tebar


Survival Rate (SR) larva kerapu macan di BBPBAP Jepara sekitar 1,8%. Kelangsungan hidup larva ikan kerapu macan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Kelangsungan Hidup Larva Ikan Kerapu Macan
Sistem Pemeliharaan Wadah Jumlah Tebar (ekor) Jumlah Panen (ekor) SR (%)

In Door
Bak 1 200.000 3.924 1,9
Bak 2 200.000 4.374 2,1
Bak 3 200.000 3.786 1,8
Bak 4 200.000 2.994 1,4
Sumber : Laporan Kegiatan Ikan Kerapu Macan BBPBAP Jepara (2010)

     Kelangsungan hidup (SR) larva kerapu macan di BBPBAP Jepara termasuk rendah karena faktor lingkungan yang kurang baik, seperti suhu rendah dapat membuat larva menjadi stres dan juga tingkat kanibalisme yang tinggi.
Menurut Subyakto dan Cahyaningsih (2005), lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan larva mudah stres dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Larva yang mengalami stres mudah sekali terkena virus yang dapat menyebabkan kematian secara massal.

4.2.3.8 Pemilahan Ukuran (Grading)
Grading adalah suatu cara dalam kegiatan pendederan untuk memilih benih yang ukurannya tidak seragam, sehingga diperoleh benih dengan ukuran yang sama (seragam). Selain untuk memperoleh benih yang seragam, tujuan lain dari pemilahan adalah untuk mengurangi sifat kanibal. Kerapu macan adalah jenis ikan yang mempunyai sifat kanibal yang biasanya terjadi pada stadia larva yang menyerupai ikan dewasa. Oleh sebab itu, pemilahan ukuran dilakukan sejak awal pendederan sehingga kematian bisa diperkecil. 
Pemilahan benih dapat dilakukan dengan menggunakan saring atau gayung plastik. Pemilahan benih dilakukan berulang-ulang hingga terdapat bak pendederan dengan ukuran ikan hampir sama pada setiap baknya. Pemilahan berikutnya dilakukan tiap 5-6 hari sekali dan dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari stres.

4.2.4 Kultur Pakan Alami
a. Artemia
      Untuk meningkatkan persentase penetasan Artemia salina maka perlu dilakukan dekapitulasi yang bertujuan untuk mengeluarkan cangkang luar kista yang keras. Untuk menetaskan  Artemia salina, kista dimasukan ke dalam wadah yang telah berisi air dengan suhu 28 – 30 0C, salinitas 30 – 35 ppt dan pH ± 8. Setelah 24 jam kista akan menetas, pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi selama ± 15 menit, sisa cangkang dan telur yang tidak menetas akan mengendap di dasar sedangkan larva akan berada di permukaan untuk mencari oksigen. Setelah itu naupli disipon dengan menggunakan selang dan air yang keluar disaring dengan saringan Artemia salina (90 – 150 µm). Lalu naupli dimasukkan ke dalam ember yang telah berisi air laut dan siap diberikan pada benih ikan kerapu macan. 


b. Chlorella sp
      Kultur Chlorella sp sangat mudah dan dapat dipanen 3 – 4 hari setelah bibit ditebar. Pemanenan dilakukan dengan cara mengalirkan Chlorella sp dengan bantuan pompa celup DAF yang berkekuatan 0,3 HP dengan bibit maksimum 1,3 m3/jam melalui selang 0,75 inchi dari bak kultur menuju bak tujuan, yaitu bak rotifer sebagai pakan rotifer, bak stok sebagai stok bibit dan bak pemeliharaan larva sebagai penyeimbang kualitas air, pemanenan dilakukan sesuai kebutuhan. 












































V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktek kerja lapang dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Kerapu merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan masih tergolong langka, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam.
2. Ikan kerapu bersifat hermaprodit protogoni, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan, ketika ikan kerapu masih muda (juvenile), gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis.
3. Kerapu macan dapat memijah secara alami dan buatan. Selama kegiatan Praktek Kerja Lapang pemijahan kerapu dilakukan secara alami, namun ada sedikit perlakuan dengan melakukan manipulasi lingkungan.
4. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari dan kemudian dibawa ke aquarium penetasan. Telur akan menetas selama ± 20-24 jam
5. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan cumi untuk induk, sedangkan untuk larva diberi pakan yang berupa rotifer,  dan Artemia.

5.2 Saran
1. Budidaya dan Pembeniha ikan kerapu macan perlu ditingkatkan karena dapat menjadi peluang usaha yang bagus.
2. pengontrolan lingkungan dan pengelolaan kualitas air serta penanganan terhadap hama dan penyakit perlu ditingkatkan agar dapat menghasilkan kualitas induk dan larva yang bagus.

1 comment: