Monday, 5 November 2012

PENYAKIT INFEKSI BAKTERI PADA IKAN KERAPU



DI KERAMBA JARING APUNG TELUK EKAS,
KABUPATEN LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT
Fris Johnny 1, Prisdiminggo2 dan Des Roza1
1Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali PO BOX 140, Singaraja 81101, Bali
2Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NTB PO BOX 1017 Mataram 87010 Mataram
ABSTRACT
The groupers cultured on net cages as develop at Ekas Bay, Kabupaten Lombok Timur, NTB by Institute Research Technology for Agriculture, NTB.  Groupers culture as humpback grouper, Cromileptes altivelis, tiger grouper, Epinephelus fuscoguttatus, and orangespotted grouper, Epinephelus coioides.  Groupers showed clinical signs furuncles or hemorrhagic ulcers on body surface and the lesions develop to erosion with hemorrhages on fin.  An experiment was aimed to isolate and characterize bacteria from infected groupers. Bacteria isolate from ulcers and finrot of diseased fish grew well at Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose Agar (TCBSA) giving yellow colony.  The bacteria was identified as Vibrio sp.
Keywords :  bacterial diseases, groupers, net cage, Ekas Bay
ABSTRAK
Budidaya ikan kerapu di dalam keramba jaring apung (KJA) telah dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NTB di Teluk Ekas, Kabupaten Lombok Timur, NTB.  Ikan kerapu yang telah dibudidayakan adalah jenis ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus,dan ikan kerapu lumpur, Epinephelus coioides.  Pada budidaya ikan kerapu  tersebut ditemukan ikan sakit dengan gejala klinis borok pada bagian tubuh dan sirip busuk.  Dari gejala klinis tersebut diduga ikan kerapu terserang penyakit infeksi bakteri.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri penyebab penyakit pada ikan kerapu budidaya.  Di Laboratorium Patologi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali, ikan kerapu bebek, ikan kerapu macan dan ikan kerapu lumpur yang sakit telah diisolasi isolat bakteri dari borok dan sirip yang busuk.  Isolat tersebut dapat tumbuh baik pada media  “thiosulphate citrate bile salt sucrose agar” (TCBSA) dengan warna koloni kuning  Bakteri ini diklasifikasikan ke dalam genus Vibrio sp. 
Kata kunci  :  penyakit infeksi, bakteri, ikan kerapu, keramba jaring apung, Teluk Ekas
PENDAHULUAN
Budidaya ikan kerapu pada  beberapa lokasi di Indonesia sudah semakin berkembang, terutama budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung (KJA).  Hal ini disebabkan karena semakin tersedianya benih secara teratur, baik dalam jumlah maupun ukuran.  Panti benih di Gondol, Bali bagian utara telah semakin berkembang dan mampu menjamin pasokan benih.  Tadinya benih ikan kerapu sangat mengandalkan pasokan alam yang jumlahnya sangat terbatas dan waktu pasok yang tidak menentu.   Karena itu pemerintah mendorong segala upaya yang mengarah kepada kegiatan budidaya ikan kerapu khususnya melalui jaring apung di laut  (Subiyanto et al., 2001).
Usaha budidaya laut merupakan salah satu usaha yang dapat memberikan alternatif sumber penghasilan untuk meningkatkan pendapatan bagi nelayan.  Apabila usaha budidaya berkembang, maka produksi dapat ditingkatkan baik jumlah maupun mutunya.  Dampak lebih lanjut dari usaha ini adalah kesejahteraan masyarakat nelayan mengalami peningkatan (Akbar, 2001).         
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NTB telah mencoba mengembangkan keramba jaring apung di Teluk Ekas, Desa Batunampar, Lombok Timur, NTB.  Usaha budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung yang dikembangkan adalah jenis kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), dan kerapu lumpur (Epinephelus coioides).  Pengembangan usaha budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung mempunyai kelebihan antara lain rendahnya biaya operasional dibandingkan dengan nilai ekonomi yang dihasilkan serta teknologi budidayanya yang sederhana dan mudah diadaptasikan di masyarakat petani nelayan secara luas.
Permasalahan yang timbul pada budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung adalah terjadinya penyakit.  Salah satu penyakit yang ditemukan pada ikan kerapu adalah penyakit infeksi bakteri dengan gejala klinis adanya borok pada bagian tubuh, dan sirip yang busuk (Koesharyani & Zafran, 1997; Zafran et al., 1998; Koesharyani et al., 2001; Wijayati & Djunaidah, 2001; Johnny & Roza, 2002; Johnny & Prisdiminggo, 2002).
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri yang menginfeksi ikan kerapu di keramba jaring apung.
METODE
Ikan Uji
Dari keramba jaring apung dikoleksi ikan uji dari ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus, dan ikan kerapu lumpur. Epinephelus coioides.  Ikan uji yang digunakan adalah dari kelompok ikan yeng terlihat sakit dengan memperlihatkan gejala klinis.  Setiap ikan uji dari masing-masing kelompok diamati gejala klinis yang terlihat, seperti perubahan warna kulit, luka-luka erosi disertai pendarahan, dan pembusukan pada sirip. 
Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Koleksi isolat bakteri diambil dari borok pada bagian tubuh ikan kerapu, dan bagian sirip yang busuk.  Isolasi dilakukan pada media penumbuhtryptone soya agar” (TSA), media “thiosulphate citrate bile salt sucrose agar” (TCBSA), kemudian diinkubasi  pada suhu 25-280C selama 24-48 jam.  Pemurnian terhadap bakteri yang tumbuh dominan pada media TSA dan TCBSA dilakukan dengan menggunakan media “marine agar” (MA).  Hasil pemurnian bakteri ini selanjutnya digunakan sebagai bahan uji.  Identifikasi isolat bakteri dilakukan berdasarkan acuan  (Holt et al., 1994).
Isolasi Ulang Bakteri
Isolat bakteri uji dibiakkan dalam media MA yang diinkubasikan selama 24-48 jam pada suhu 260C, kemudian dipanen menggunakan air laut steril.  Kepadatan bakteri 108 cfu/mL ditentukan berdasarkan McFarland “equivalence turbidity standard 1.0” setara dengan kepadatan bakteri   108 cfu/mL.  Selanjutnya isolat bakteri tersebut digunakan sebagai bahan infeksi buatan dengan cara menyuntikkan intraperitoneal  sebanyak 0,1 mL/individu.  Ikan kontrol disuntik menggunakan NaCl fisiologis dengan dosis yang sama.  Ikan uji yang digunakan adalah juvenil ikan kerapu bebek, ikan kerapu macan, dan ikan kerapu lumpur,  bobot antara  8-19 gram, panjang total antara 5-9 cm masing-masing 10 ekor untuk setiap kelompok.  Pengamatan dilakukan terhadap gejala klinis dan mortalitas ikan uji, dan melakukan isolasi ulang bakteri dari organ ginjal dan luka erosi.
Uji Sensitivitas terhadap Antibiotik
Dari isolat bakteri yang diperoleh dilakukan uji sensitivitas  terhadap antibiotik dilakukan secara in-vitro.  Bakteri uji dioleskan secara merata pada lempengan media agar, selanjutnya pada bagian permukaan diletakkan lempeng antibiotik yang sudah mengandung antibiotik yang akan diuji, yaitu eritromisin (15 mg), ampisilin (10 mg), klorampenikol (30 mg), dan oksitetrasiklin (30 mg), produksi Oxoid Unipath Limited, Besingstoke, Hampshire, UK.  Kemudian diinkubasikan pada suhu 26 0C selama 24 jam.  Tingkat sensitivitas ditentukan melalui pengukuran zona penghambatan yang diakibatkan oleh masing-masing antibiotik uji.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Isolat bakteri dominan diisolasi dari luka erosi atau borok dan sirip busuk pada ikan kerapu bebek, ikan kerapu macan, dan ikan kerapu lumpur yang sakit, berasal dari keramba jaring apung di daerah Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.    Dari isolat dominan yang diperoleh selanjutnya diberi kode LG-1802, LG-2802, LG-3802, LG-4802, LG-5802, LG-6802, dan LG-7802, selanjutnya digunakan dalam penelitian ini (Tabel 1).

Tabel 1.  Pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari borok dan sirip busuk pada media tumbuh bakteri
Organ
Media bakteri
TSA
TCBSA
Borok
+
+
Sirip busuk
+
+
Tabel 1,  menunjukkan bahwa isolat bakteri yang dimurnikan pada media MA adalah isolat yang tumbuh pada media TSA dan TCBSA. Pada media TSA  hampir semua jenis bakteri tumbuh dan tidak spesifik untuk satu bakteri.  Sedangkan pada media TCBSA bakteri yang tumbuh adalah spesifik untuk bakteri dari genus vibrio. 

Dengan berpedoman kepada Holt et al. (1994) isolat bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 diidentifikasikan sebagai genus vibrio.  Tabel 2 menunjukkan karakter dari isolat tersebut antara lain gram negatif, sitokrom oksidase positif, dan sensitif terhadap agen vibrio statik 0/129 150 mg.  Bakteri vibrio dapat bersifat patogen terhadap ikan, seperti Vibrio harveyi yang ditemukan sebagai penyebab penyakit mata pada ikan bandeng, Chanos chanos di Filipina (Muroga et al., 1984), kasus infeksi mata ikan common snook, Centropomus undecemalis (Kraxberger et al., 1990). 
Gambar 1.  Penyakit borok pada ikan kerapu
Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali kasus penyakit borok  pada ikan kerapu merupakan salah satu penyakit penting pada budidaya ikan kerapu di dalam keramba jaring apung. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian masal seperti halnya infeksi iridovirus.  Sampai sekarang penyakit ini ditemukan pada calon induk kerapu lumpur dan fingerling kerapu macan.  Pada fingerling kerapu macan, penyakit ini terjadi 1 minggu setelah ikan dipelihara di dalam keramba jaring apung.  Mortalitas dari masing-masing kasus dapat mencapai 10-20% meskipun telah diterapi dengan antibiotik.  Pada kasus penyakit borok pada ikan kerapu (Gambar 1), ikan yang mengalami kematian secara akut memperlihatkan beberapa gejala eksternal, sedangkan pada kasus kronis terlihat pembengkakan atau luka-luka kemerahan yang merupakan ciri khas yang dapat diamati pada permukaan tubuh.  Bakteri penyebab infeksi ini termasuk ke dalam genus Vibrio dan di Gondol telah diidentifikasi sebagai Vibrio alginolyticus  (Koesharyani et al., 2001).
Gambar 2.  Penyakit sirip busuk pada ikan kerapu

 

Kasus penyakit sirip busuk pada ikan kerapu, penyebab utama adalah jenis bakteri Flexibacter yang menyerang ikan kerapu bebek.  Pada ikan kerapu bebek yang dibudidayakan di panti benih sering ditemukan adanya sirip busuk dengan luka kemerahan (Gambar 2).  Dari luka-luka ini, satu jenis bakteri telah diisolasi dan diidentifikasikan sebagai bakteri Flexibacter maritimus.  Meskipun bakteri ini bukan penyebab dari sistemik septikemia, jika pengobatan tidak dilakukan, maka kondisi ikan akan semakin buruk dengan infeksi sekunder oleh vibrio (Koesharyani et al., 2001; Johnny & Roza, 2002; Johnny & Prisdiminggo, 2002).  
Dalam percobaan ini bakteri Flexibacter maritimus sebagai infeksi primer tidak dapat diisolasi dan diidentifikasi, diduga bakteri vibrio sebagai infeksi sekunder sudah sangat dominan.  Kasus sirip busuk  pada ikan kerapu menunjukkan bakteri vibrio hanya berperan dalam infeksi sekunder yang dapat timbul setiap waktu tergantung pada faktor lingkungan serta faktor lainnya (Saeed, 1995).
Bakteri vibrio diketahui sebagai bakteri oportunistik dan merupakan bakteri yang sangat ganas dan berbahaya pada budidaya ikan kerapu karena dapat bertindak sebagai patogen primer dan sekunder.  Sebagai patogen primer bakteri masuk tubuh ikan melalui kontak langsung, sedangkan sebagai patogen sekunder bakteri menginfeksi ikan yang telah terserang penyakit lain, misalnya oleh parasit (Post, 1987). 
Ikan kerapu di alam merupakan ikan karang dengan habitat asli di daerah terumbu karang di laut dalam yang jernih dan bersih.  Berkembangnya bakteri vibrio di suatu perairan merupakan indikator perairan yang kurang menguntungkan bagi ikan dengan kandungan nutrien yang tinggi (Andrews et al., 1988).
Penyakit yang disebabkan oleh vibrio juga merupakan masalah yang sangat serius dan umum menyerang ikan-ikan budidaya laut dan payau.  Penularannya dapat melalui air atau kontak langsung antar ikan dan menyebar sangat cepat pada ikan-ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.   Bakteri vibrio yang menginfeksi ikan kerapu stadia juvenil selain lemah, berwarna kusam kehitaman, dan produksi lendir berlebihan.  Pada tingkat parah, sirip punggung dan sirip ekor gripis dengan permukaan kulit menghitam seperti terbakar (Schubert, 1987).
Isolasi Ulang Bakteri
Isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 dilakukan uji patogenisitas bakteri terhadap ikan kerapu sehat.  Dari hasil pengamatan ternyata bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802  pada kepadatan 108 cfu/ml dalam 24 jam setelah penyuntikan secara intra muscular memperlihatkan gejala klinis luka kemerahan pada tempat penyuntikan.  Hasil isolasi ulang bakteri dari organ ginjal dan luka pada lokasi penyuntikan ikan uji ternyata didapat bakteri  jenis yang sama.  Adanya bakteri yang sama pada ginjal membuktikan bahwa ginjal mempunyai fungsi retikulo-endotelial, yaitu kemampuan suatu organ untuk menyerap bakteri dari darah, dimana akumulasi bakteri yang diinjeksikan secara intramuskular lebih banyak ditemukan pada organ ginjal dan limpa daripada dalam organ hati (Saeed, 1995).  
Tabel 2.   Karakteristik dari bakteri isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 yang diisolasi dari borok dan sirip busuk ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus, dan ikan kerapu Lumpur, Epinephelus coioides. 
Karakteristik
Isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802
Holt et al.
(1994)
Isolasi ulang dari ginjal dan luka erosi
Pewarnaan Gram
-
-
-
Sitokrom oksidase
+
+
+
Katalase
+
Nt
+
Cahaya
-
D
-
Gerakan
D
D
D
Pertumbuhan pada TCBSA
Y
Y/G
Y
Pertumbuhan pada NaCl :




0 %
-
-
-

3 %
+
+
+

6 %
+
+
+

10 %
-
Nt
-
L – Arginin
-
D
-
L – Lysin
+
D
+
L – Ornithin
+
D
+
Hugh - Leifson (O-F)
F
F
F
Peka terhadap 150 mg
agen vibriotik 0/129
S

S

S

Sumber :  Holt et al. (1994)
D = Karakter berbeda antar spesies, Y = Kuning, F = Fermentatif, S = Peka, Nt = Tidak diuji, G = Hijau

Sensitivitas Bakteri terhadap Antibiotik
Pengujian dilakukan dengan menggunakan lempeng antibiotik untuk mengetahui jenis antibiotik yang dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian infeksi bakteri baik melalui pakan maupun perendaman.  Tabel 3 menunjukkan bahwa bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 sensitif terhadap antibiotik kloramfenikol (30 mg) dan oksitetrasiklin (30 mg) dan tahan terhadap antibiotik ampisilin (10 mg) dan eritromisin (15 mg) yaitu dengan melihat diameter zona penghambatannya. 
Daya hambat antibiotik kloramfenikol terlihat lebih tinggi, akan tetapi untuk upaya pengendalian infeksi bakteri vibrio tidak dapat diaplikasikan, karena antibiotik tersebut berbahaya bagi manusia serta dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri.  Koesharyani et al., (2001)  menyatakan bahwa pengendalian infeksi bakteri seperti penyakit finrot efektif menggunakan nifurpirinol 10,0% dengan dosis 1-2 ppm selama 24 jam.  Namun terhadap ikan kerapu macan yang telah kehilangan sirip ekor tidak dapat disembuhkan.
Tabel 3. Sensitivitas bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 terhadap beberapa antibiotik  secara invitro
Jenis Lempeng Antibiotik
Konsentrasi
Zona Penghambatan
Eritromisin
15 mg
12 mm
Ampisilin
10 mg
8 mm
Kloramfenikol
30 mg
39 mm
Oksitetrasiklin
30 mg
33 mm
KESIMPULAN
Bakteri penyebab penyakit borok dan sirip busuk pada ikan kerapu di dalam keramba jaring apung adalah bakteri dari genus Vibrio sp. 
SARAN
Upaya pengendalian penyakit borok dan sirip busuk pada ikan kerapu tidak disarankan menggunakan antibiotik kloramfenikol, karena mempunyai efek negatif pada manusia dan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten.  Sebagai alternatif, disarankan menggunakan Nifurpirinol 10% dengan dosis 1-2 ppm selama 24 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S.  2001.  Pembesaran Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Karamba Jaring Apung. (In) Aliah et al.,  (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001.  Hal. 141-148.
Andrews, C., A. Exell and N. Carrington.  1988.  The Manual of Fish Health.  Salamander Books Limited.  London. New York.  208pp.
Holt, J.G., N.R. Krieg, P.H.A. Sneath, J.T. Staley and S.T. Williams.  1994.  Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology.  Ninth Edition.  Williams & Wilkins.  BaltimoreUSA.  pp.
Johnny, F. dan D. Roza.  2002.  Kejadian Penyakit pada Budidaya Ikan Kerapu dan Upaya Pengendaliannya.  Laporan Hasil Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali.  14 hal.
Johnny, F., dan Prisdiminggo.  2002.  Studi Kasus Penyakit Fin Rot Pada Ikan Kerapu Macan, Epinephelus Fuscoguttatus Di Karamba Jaring Apung Teluk Ekas, Desa Batunampar, Lombok Timur, NTB.  Laporan Hasil Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali.  9 hal.
Kraxberger-Beatty, T., D.J. Mc. Garey, H.J. Grier and D.V. Lim.  1990.  Vibrio harveyi an Opportunistic Pathogen of Common Snook, Centropomus undecimalis (Bloch), Held in Captivity.  Journal Fish Diseases.  13:557-560.
Koesharyani, I. and  Zafran.  1997.  Studi Tentang Penyakit Bacterial Pada Ikan Kerapu.  Jur. Pen. Perikanan Indonesia.  III(4):35-39.
Koesharyani, I., D. Roza, K. Mahardika, F. Johnny, Zafran and K. Yuasa. 2001.  Marine Fish and Crustaceans Diseases in Indonesia In Manual for Fish Diseases Diagnosis II (Ed. by K. Sugama, K. Hatai and T. Nakai). 49 p. Gondol Research Station for Coastal Fisheries, CRIFI and Japan International Cooperation Agency.
Muroga, K., Gilda Lio-Po, C. Pitogo and R. Imada.  1984.  Vibrio sp. isolated from Milkfish (Chanos chanos) With Opaque Eyes.  Fish Pathology.  19(2):81-87.
Post, G. 1987.  Texbook of Fish Health. T.F.H. Publications Inc. USA. 288 pp.
Saeed, O.  1995.  Association of Vibrio harveyi With Mortalities in Cultured Marine Fish in Kuwait.  Aquaculture.  136:21-29.
Schubert, G. 1987.  Fish Diseases a Complete Introduction. T.F.H. Publications Inc. USA. 125 pp.
Subiyanto, I. Adisuko, S. Anwar, N. Yustiningsih, S. Prayitno, dan P. Sumardika.  2001.  Pengkajian dan Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Nasional.  (In) Aliah et al.,  (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001.  Hal. 61-67.
Wijayati, A. dan I.S. Djunaidah.  2001.  Identifikasi Patogen Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Pada Berbagai Stadia Pemeliharaan. (In) Aliah et al.,  (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001.  Hal. 81-88.
Zafran, D. Roza, I. Koesharyani, F. Johnny and K. Yuasa. 1998.  Marine Fish and Crustaceans Diseases in Indonesia In Manual for Fish Diseases Diagnosis (Ed. by K. Sugama, H. Ikenoue and K. Hatai). 44 p. Gondol Research Station for Coastal Fisheries, CRIFI and Japan International Cooperation Agency.

Thursday, 1 November 2012

Teknik Budidaya Cacing Sutra


Budidaya Cacing Sutra Dari Limbah Kolam Lele

Cacing sutra dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk ikan benih, sehingga mampu mempercepat pertumbuhan pada ikan. Namun sayang pasokan cacing sutra lebih banyak mengandalkan tangkapan dari alam sehingga sangat tergantung musim dan tidak bisa diandalkan. Budidaya cacing sutra telah banyak dilakukan para peternak ikan ,namun itu hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga peluang usaha bisnis budidaya cacing sutra ini lumayan bagus. Ada satu cara unik dan menarik dalam budidaya cacing sutra yaitu dengan memanfaatkan limbah organik dari kolam lele konsumsi.
Adalah Suroto atau biasa dipanggil Otoy seorang pembenih dan petani pembesaran ikan lele dari Pringsewu, Lampung. Ia telah berhasil melakukan budidaya cacing sutra dari limbah organik ikan lele peliharaannya. Awalnya saat pemanenan ikan lele konsumsi timbul masalah membuang air limbah organik, air ini ditampung pada kolam yang kurang produktif, air bening pada bagian atas dibuang setelah 2 hari kemudian. Hal ini dilakukan berulang kali setiap panen lele, akhirnya secara tidak sengaja di kolam tersebut mulai muncul cacing yang terus berkembang. Cacing yang ada terus dipelihara dan dibudidayakan sampai saat ini.
Jika anda berminat untuk menekuni budidaya cacing sutra ini, beberapa tahapan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Kolam Untuk Budidaya Cacing Sutra
Kolam yang kurang produktif (tidak dipakai untuk budidaya lele) di areal usaha pembesaran ikan lele dapat diperuntukan untuk budidaya cacing sutera dengan luas 60 – 100 m2 (disesuaikan dengan areal yang ada). Air limbah kolam pembesaran lele diaduk-aduk untuk selanjutnya dimasukkan dengan pompa (dengan menyedot) ke kolam budidaya cacing sutera.
2. Pengendapan Air
Air yang masuk di endapkan selama 3-5 hari, selanjutnya bagian atas endapkan air dibuang/diturunkan mencapai 5 – 10 cm dari permukaan lumpur. Lumpur diratakan dengan sorok/kayu untuk selanjutnya dibiarkan selama beberapa hari. Proses ini di ulangi 2 – 3 kali hingga lumpur halus yang ada di kolam cukup banyak.
3. Penebaran Benih
Indukan cacing sutra sebanyak 10 gelas (2-3 liter) ditaburkan kedalam lahan yang sudah siap dan diisi dengan air setinggi 5-7cm.
4. Perawatan Cacing Sutra
Selama masa pemeliharaan cacing sutra , air di usahakan tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. Setelah 10 hari biasanya bibit cacing sutra mulai tumbuh halus dan merata di seluruh permukaan lumpur dalam kolam. Ulangi lagi proses penambahan air buangan panen ikan lele ke dalam kolam budidaya cacing sutra maka setelah 2-3 bulan cacing mulai dapat dipanen.

PROSES PANEN CACING SUTRA
Cacing sutra akan tumbuh setelah 2 minggu biang cacing sutera ditebar atau > 2 bulan apabila tanpa penebaran biang cacing sutera. Panen pertama dapat dilakukan setelah cacing berumur > 75 hari. Untuk selanjutnya dapt dipanen setiap 15 hari. Ciri kolam budidaya cacing sutra yang siap untuk di panen adalah apabila lumpur sebagai media pemeliharaan terasa kental bila dipegang.
Waktu panen cacing sutera dilakukan pada pagi/sore hari dengan cara menaikkan ketinggian air sampai 50-60 cm agar cacing naik sehingga mudah dipanen. Cacing dan lumpur di keruk/aduk dengan caduk/garu dimasukkan dalam baskom kemudian dicuci dalam saringan.
Cacing yang terangkat masih bercampur lumpur, selanjutnya dimasukkan dalam ember/bak yang berisi air dengan ketinggian lebih kurang 1(satu) cm diatas media lumpur. Ember ditutup agar bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 1 – 2 jam.
Cacing akan bergerombol diatas media dan dapat diambil dengan tangan untuk dipisahkan dari media/lumpur. Cacing tersebut dimasukkan dalam bak pemberokan selama 10-12 jam. Cacing siap di berikan kepada benih ikan ataupun dijual.(Galeriukm).

Salinitas Air Laut


Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/ooberkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).

bahan bacaan:

Densitas Air Laut




Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut. Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan untuk menyatakan densitas adalah ρ (rho).
Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p). Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut (Equation of State of Sea Water):
ρ = ρ(T,S,p)
Penentuan dasar pertama dalam membuat persamaan di atas dilakukan oleh Knudsen dan Ekman pada tahun 1902. Pada persamaan mereka, ρ dinyatakan dalam g cm-3. Penentuan dasar yang baru didasarkan pada data tekanan dan salinitas dengan kisaran yang lebih besar, menghasilkan persamaan densitas baru yang dikenal sebagai Persamaan Keadaan Internasional (The International Equation of State, 1980). Persamaan ini menggunakan temperatur dalam oC, salinitas dari Skala Salinitas Praktis dan tekanan dalam dbar (1 dbar = 10.000 pascal = 10.000 N m-2). Densitas dalam persamaan ini dinyatakan dalam kg m-3. Jadi, densitas dengan harga 1,025 g cm-3 dalam rumusan yang lama sama dengan densitas dengan harga 1025 kg m-3 dalam Persamaan Keadaan Internasional.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut terletak pada kisaran 1025 kg m-3 sedangkan pada air tawar 1000 kg m-3. Para oseanografer biasanya menggunakan lambang σt (huruf Yunani sigma dengan subskrip t, dan dibaca sigma-t) untuk menyatakan densitas air laut. dimana σt = ρ - 1000 dan biasanya tidak menggunakan satuan (seharusnya menggunakan satuan yang sama dengan ρ). Densitas rata-rata air laut adalah σt = 25. Aturan praktis yang dapat kita gunakan untuk menentukan perubahan densitas adalah: σt berubah dengan nilai yang sama jika T berubah 1oC, S 0,1, dan p yang sebanding dengan perubahan kedalaman 50 m.
Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi di atas titik beku untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya konveksi panas.
  • S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum, kemudian jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada lapisan campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Di bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas maksimum.
  • S > 24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas (heat) yang tersimpan di dalam badan air. Hal ini terjadi karena air mencapai titik bekunya sebelum densitas maksimum tercapai.
Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter densitas potensial yang didefinisikan sebagai densitas parsel air laut yang dibawa secara adiabatis ke level tekanan referensi. 

bahan bacaan: